Keutamaan Mencari Rezeki



Banyak orang setiap harinya keluar untuk mencari rezeki. Rezeki yang dimaksud diantaranya berupa penghasilan yang ia dapat lewat bekerja. Di perkotaan misalnya orang-orang mencari rezeki dengan mengajar, berdagang, bekerja di kantor, atau menawarkan jasa tertentu seperti menjadi supir kendaraan umum mulai dari supir taksi, ojek motor online, dan sebagainya.

Sementara, di wilayah pedesaan mencari rezeki banyak juga dengan mengolah lahan atau memelihara hewan ternak. Semuanya pada intinya sedang mencari apa yang disebut dalam Alquran fadhlullah (anugerah/keutamaan yang diturunkan Allah kepada manusia). Kita tentu mengingat salah satu firman Allah dalam surat al-Jum’ah ayat 10:

“Maka jika shalat (di waktu jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kalian di muka bumi (untuk mencari rezeki), dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya.”

Namun, yang harus kita perhatikan saat mencari rezeki adalah jangan sampai rezeki yang kita terima tidak halal. Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam karyanya Syarh an-Nashaih ad-Diniyyah menggambarkan bahwa memakan harta yang halal, akan membuat hati nurani menjadi terang benderang, halus, dan tertambat kepada hal-hal ukhrawi. Tapi harta yang haram menghasilkan lawan dari semua yang disebutkan tadi. Hati menjadi keras, diliputi kegelapan, anggota tubuh menjadi terbelenggu untuk melakukan ketaatan kepada Allah, serta menjadi terlalu senang kepada dunia. Berikut ini pernyataan lengkap beliau,

أن أكل الحلال ينور القلب ويرققه ويجلب له الخشية من الله والخشوع لعظمته وينشط الجوارح للعبادة والطاعة ويزهد في الدنيا ويرفب في الآخرة … وأما أكل الحرام والشبهات فصاحبه على الضد من جميع هذه الخيرات، يقسي القلب  ويظلمه ويقيد الجوارح عن الطاعات ويرغب في الدنيا

“Memakan yang halal dapat menerangi hati, membuatnya halus, menyebabkan hati menjadi takut kepada Allah dan hikmat khusyu’ terhadap keagungan Allah, membuat anggota tubuh sigap untuk beribadah dan menjalankan ketaatan, zuhud pada persoalan dunia namun senang terhadap akhirat. Sementara memakan yang haram dan belum jelas hukumnnya (syubhat), maka (rezeki itu menyebabkan) hasilnya lawan dari semua kebaikan memakan yang halal. (Mulai dari) keras hati, penuh kegelepan, tubuh terbelenggu untuk melaksanakan ketaatan, hingga cinta (sekali) kepada dunia.”

Sa’ad bin Abi Waqqash Ra seperti dikutip Habib Abdullah al-Haddad, pernah mengatakan dengan singkat bahwa makanan yang halal menyebabkan doa yang dipanjatkan menjadi terkabul. Beliau berkata,

أطب طعمتك تستجب دعوتك

“Makanlah makanan yang baik (halal), doamu (yang kau panjatkan) akan terkabul.”

Semoga dalam usaha kita mencari rezeki, kita terhindar dari rezeki yang tidak halal.

Comments